Minggu, 20 Juni 2010

Pemimpin Harus Ideal-Membuka Tabir Permasalahan Pemimpin

Oleh: Hary Kustanto
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Diskursus masalah kekhalifahan atau kepemimpinan telah berlangsung lama, tetapi di luar semua itu, kepemimpinan adalah amanat yang harus dijaga, karena siapa pun orangnya, dia adalah pemimpin. Sesuai dengan sabda Rosulullah SAW ”Kalian semua adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan kalian”.

Amanat kepemimpinan yang diemban manusia merupakan sebuah pertanda bahwa keberadaan manusia di alam semesta secara fisik jelas sebagai makhluk yang paling sempurna terkait dengan firman Allah SWT dalam Al-qur’an, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (Q.S. At-tin: 4). Perlu diketahui bahwa kesempurnaan manusia itu bukanlah semata-mata karena ketampanan dan kecantikannya, bukan juga karena kegagahan tubuhnya, melainkan karena adanya tiga unsur yang menyatu membentuk manusia. Tiga unsur itu adalah jasad, akal dan ruh.
 
Dengan tiga unsur tersebut, Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah dimuka bumi, karena tiga hal tersebut akan berkoordinasi dan bekerja sama untuk membentuk individu yang ideal sehingga pantas disebut sebagai khalifah.
 
Ya, pemimpin harus ideal. Artinya manusia harus memperlakukan dirinya secara adil dan proporsional. Hal itu bisa diwujudkan dengan cara memberikan semua hak pada elemen penyusunnya, yaitu jasad, akal dan ruh.
Jasad atau jasmani, adalah bentuk tubuh manusia yang terbuat dari segumpal tanah. “Sesungguhnya kami menciptakan manusia dari tanah yang lengket”. Kalau demikian, jasad harus di jaga dengan memberinya makan, minum, olahraga, istirahat, karena kesehatan jasmani adalah hal yang harus selalu dijaga supaya akal bisa bekerja dengan baik karena “mensana in corporisano”.

Yang kedua adalah akal. Akal adalah sebuah hal yang menjadikan manusia lebih istimewa dibanding makhluk lain. Hal itu dikarenakan akal bisa menjadikan manusia lebih mulia dari  malaikat dan bisa menjadikan manusia lebih hina dari hewan. Pada dasarnya, akal akan selalu mendorong manusia untuk terus berjalan dalam kebaikan, hanya saja kebanyakan manusia tidak selalu memberikan hak-hak yang seharusnya didapat oleh akal, yaitu pendidikan dan berfikir, sehingga tidak sedikit manusia yang terperosok ke jurang kenistaan padahal dia memiliki akal. Perlu diketahui, akal adalah tameng untuk melawan hawa nafsu yang hakikatnya selalu mengajak manusia untuk berbuat buruk.
 
Unsur terakhir yang membentuk manusia adalah ruh. Ruh atau rohani berfungsi sebagai penghubung manusia dengan Tuhannya (hablum minallah). Dalam masalah ini manusia dituntut untuk memperkaya ruh (rohani) dengan ibadah kepada Allah SWT. Dijelaskan dalam al-qur’an bahwa “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembahku”. Secara rohaniah, ibadah bisa menadikan manusia dekat dengan tuhan sehingga tanpa disadari, perilakunya akan selalu sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Tuhannya.
 
Kaitannya dengan Bangsa Indonesia, ternyata kemerosotan bangsa Indonesia disebabkan pemimpin kita sendiri yang belum pantas untuk menjadi pimpinan dalam artian mereka tidak bisa mensinergiskan kerja jasad dengan akal dan ruhnya. Padahal idealnya bangsa kita bisa menjadi bangsa yang termaju di dunia. Bayangkan saja, semua kekayaan alam dimiliki, iklim yang sangat bersahabat dengan manusia, serta budaya dan suku yang beraneka ragam adalah keistimewaan yang kita miliki.
 
Sekarang adalah saat yang tepat untuk membangunkan Bangsa Indonesia dari tidurnya. Janganlah kita biarkan Bangsa kita dipimpin oleh orang-orang yang hanya peduli pada perutnya (baca: jasad). Bagi para pemimpin hendaknya selalu mengerti bahwa kepemimpinan adalah amanat Allah, sehingga siapa saja yang menyalah gunakan amanatnya, Allah sendirilah yang akan membalasnya.
 
Kalau demikian, jelaslah bahwa manusia yang ideal adalah ketika jasad, akal dan ruhnya bisa bekerja dengan baik, karena jasad yang sehat akan membantu proses kerja akal yang nantinya akan menimbulkan kesadaran rohaniah untuk senantiasa beribadah pada Allah SWT. Itulah pemmpin ideal yang seharusnya memimpin Bangsa.Layaknya sebuah bangunan, manusia akan rapuh jika salah satu komponennya rusak dan tidak mampu menopang kinerja komponen lainnya.
 
Fikirkanlah! apakah kita termasuk manusia yang ideal?sehingga kita pantas menyandang status kholifah?. Pertanyaan ini harus dijawab dan direnungkan setiap saat, karena bisa jadi kita bukanlah manusia ideal. Parahnya lagi, bisa jadi kita saat ini hanyalah sekedar mayat hidup yang tidak memiliki integritas dan peran apapun dalam kehidupan. Sungguh memalukan memang, tetapi “mayat hidup” adalah julukan yang pas jika kita tak lagi menjaga kesehatan akal dan ruh yang kita miliki.

Tidak ada komentar:

Artikel Terbaru

Republika Online